Gunung Bambapuang adalah gunung yang terdapat di wilayah Enrekang, tepatnya di daerah Dusun Kotu, Desa Bambapuang. Gunung dengan ketinggian 1557 meter ini sering menjadi destinasi pendakian para wisatawan lokal Indonesia. Terkadang traveler bule yang berwisata di Enrekang juga menikmati keindahan gunung ini dari bawah.
Pada masa PKL yang merupakan salah satu kewajiban perkuliahan, saya ditempatkan bekerja di Enrekang bersama teman saya yang kebetulan memang kelahiran sana. Karena itulah saya berkesempatan turut melakukan ekspedisi pendakian gunung Bambapuang ini, tentunya bersama teman saya itu dan beberapa rekan lain.
Mendaki gunung jelas pengalaman pertama yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Kegiatan ini membuat saya bersemangat dan excited, memikirkan akhirnya saya dapat mengalami sendiri experience dari lagu anak-anak "Naik Naik ke Puncak Gunug" yang sering saya lantunkan waktu SD. Hehe..
Tapi selain itu ada pula perasaan deg-degan karena sebagai anak bawang dalam situasi ini saya belum punya bekal apa-apa untuk melakukan aktivitas baru sebagai pendaki.
Waktu beraksi telah kami tentukan, teman saya mengajak adik dan temannya untuk melakukan pendakian, sehingga jumlah eksekutor gunung jadi 4 orang. Perlengkapan yang kami siapkan sangat sederhana, antara lain tikar, air, kopi, dan cemilan biskuit yang dimasukkan dalam satu tas gunung. Ransel pribadi kami bawa masing-masing, yang mana tas saya hanya berisi baju ganti.
Teman saya menjadi leader yang bertugas untuk membimbing jalur menuju puncak berhubung dia sudah pernah menaklukkan gunung Bambapuang tersebut beberapa waktu yang lalu.
Pendakian pun dimulai, dengan semangat kami berjalan menelusuri rumput dan bebatuan untuk naik ke atas. Jalur yang berkelok-kelok ditambah medan bebatuan yang kasar pada beberapa titik membuat kami kesulitan untuk menapakkan kaki.
Awalnya kami berjalan beriringan secara berkelompok, tapi semakin mendekati puncak lokasi kecepatan kami dalam berjalan mulai berbeda-beda. Saya dan teman saya mendahului adik dan temannya meski tetap menjaga jarak agar tidak jauh meninggalkan mereka berdua.
Sepertiga perjalanan telah kami lalui, bisa dibilang kami sudah sampai pada pos pertama. Kami beristirahat sejenak sambil meminum air yang kami bawa untuk membasmi dahaga. Dalam beberapa view pemandangan yang bagus tak lupa saya mengambil gambar.
Di pos pertama ini di arah yang berlawanan kami berpapasan dengan pendaki lain yang tengah menuruni gunung. Berbincang sedikit, kami jadi tahu kalau dia seorang anggota Mapala. Sebenarnya dapat terlihat dari bagaimana gesit dan lincahnya ketika dia meluncur dengan mudah mengatasi bukit penuh bebatuan ini.
Setelah istirahat beberapa menit perjalanan kami lanjutkan kembali. Sampai pada pos ke dua tenaga saya sudah banyak yang terkuras, lutut pun sudah mulai merasakan nyeri dan sakit. Apalagi beberapa posisi tebing yang curam memaksa kami merayap menggunakan tangan, bebatuan terjal terlihat dari bawah, salah sedikit bisa berakibat fatal.
Keringat bercucuran, dengan sisa energi yang masih bertahan kami terus melanjutkan perjalanan berharap waktu senja tidak berganti malam. Dan akhirnya kami semua sukses mencapai puncak gunung Bambapuang.
Hal pertama yang saya rasakan tentu kepuasan yang tak terkira. Kelelahan yang tadinya melanda sepanjang perjalanan langsung sirna oleh keindahan panorama atas gunung dibayangi oleh sunset yang merona. Kami pun mengabadikan banyak foto sebagai kenang-kenangan. Jadi teringat pepatah pendaki.
"Jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan membunuh apapun kecuali waktu."
Matahari semakin merah mendandakan tugasnya yang akan diambil alih oleh bintang. Sebelum itu terjadi dengan segera kami mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun. Api dinyalakan dengan batang-batang kering seadanya, bergantian kami menjaganya. Malam semakin dingin dan menusuk.
Kami tidur beralaskan tikar beratap gelapnya langit malam. Ya, tidak ada satupun dari kami yang membawa tenda. Malam itu tidak bisa disebut sebagai malam terbaik yang saya alami, secara pribadi saya harus mengakui bahwa belum pernah rasanya mengalami sensasi dingin semacam itu sebelumnya.
Api berulangkali mati dan cuaca dingin terus menyapa sepanjang malam. Hiburan saya satu-satunya hanya melihat taburan bintang sambil berbaring, sinar kecil itu nampak berjatuhan dan saling bertubrukan satu sama lain. Malam itu diatas kesunyian Bambapuang, langit malam begitu gemerlap dan menyilaukan. Iseng menghitung jutaan bintang itu, mata saya pun mulai redup dan tertutup.
Saya tidak ingat berapa lama saya bisa tertidur, tapi nampaknya tidak sampai 4 jam karena kesibukan menjaga api unggun tetap menyala. Subuh buta kami semua sudah terjaga, sambil berbenah kami menikmati cemilan biskuit yang sudah dibawa. Untuk menambah hangat biskuit coklat tersebut kami panggang diatas api unggun, jadinya tambah maknyus gan. Hehe..
Pagi semakin menyapa, sebelum turun kami coba menjelajah beberapa spot-spot di gunung ini yang tidak sempat kami eksplorasi kemarin. Menelusuri bebatuan besar yang dilengkapi telaga-telaga kecil berisi air jernih nan sejuk.
Bermacam-macam gambar kami abadikan sebelum HP kehabisan daya. Esensi pendakian selain bentuk kecintaan terhadap alam, juga mestinya mengabadikan momen-momen berkesan untuk dikenang.
Akhirnya kami semua turun dengan melalui jalur yang sedikit berbeda arah sewaktu naik ke atas. Menuruni gunung tentunya lebih mudah dibanding ketika mendakinya. Sampai di bawah, berakhirlah salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup saya. Petualangan ini meninggalkan banyak kenangan berarti yang tak terlupakan, sekaligus mendebarkan.
Sayangnya beberapa waktu setelah hari itu, teman saya memberikan kabar kalau di lokasi gunung Bambapuang telah terjadi kebakaran yang hebat, semua tumbuhan berubah menjadi arang. Katanya penyebabnya karena aktivitas para perokok.
Saya yang mendengarnya pun miris, segitu hinakah kita sebagai manusia ketika berhadapan dengan alam? Masih banyak manusia yang gagal memposisikan dirinya ketika menjadi eksplorer gunung. Petuah tentang pendakian diabaikan, sampah ditinggalkan, keindahan dianiaya.
Ingatlah karena kejadian ini banyak yang tewas di Bambapuang, alam memang sering memakan korban karena kurangnya respek dari manusia. Maka dari itu hormatilah, jagalah, agar generasi kita dicintai alam raya.
Pada masa PKL yang merupakan salah satu kewajiban perkuliahan, saya ditempatkan bekerja di Enrekang bersama teman saya yang kebetulan memang kelahiran sana. Karena itulah saya berkesempatan turut melakukan ekspedisi pendakian gunung Bambapuang ini, tentunya bersama teman saya itu dan beberapa rekan lain.
Mendaki gunung jelas pengalaman pertama yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Kegiatan ini membuat saya bersemangat dan excited, memikirkan akhirnya saya dapat mengalami sendiri experience dari lagu anak-anak "Naik Naik ke Puncak Gunug" yang sering saya lantunkan waktu SD. Hehe..
Tapi selain itu ada pula perasaan deg-degan karena sebagai anak bawang dalam situasi ini saya belum punya bekal apa-apa untuk melakukan aktivitas baru sebagai pendaki.
Waktu beraksi telah kami tentukan, teman saya mengajak adik dan temannya untuk melakukan pendakian, sehingga jumlah eksekutor gunung jadi 4 orang. Perlengkapan yang kami siapkan sangat sederhana, antara lain tikar, air, kopi, dan cemilan biskuit yang dimasukkan dalam satu tas gunung. Ransel pribadi kami bawa masing-masing, yang mana tas saya hanya berisi baju ganti.
Teman saya menjadi leader yang bertugas untuk membimbing jalur menuju puncak berhubung dia sudah pernah menaklukkan gunung Bambapuang tersebut beberapa waktu yang lalu.
Pendakian pun dimulai, dengan semangat kami berjalan menelusuri rumput dan bebatuan untuk naik ke atas. Jalur yang berkelok-kelok ditambah medan bebatuan yang kasar pada beberapa titik membuat kami kesulitan untuk menapakkan kaki.
Awalnya kami berjalan beriringan secara berkelompok, tapi semakin mendekati puncak lokasi kecepatan kami dalam berjalan mulai berbeda-beda. Saya dan teman saya mendahului adik dan temannya meski tetap menjaga jarak agar tidak jauh meninggalkan mereka berdua.
Sepertiga perjalanan telah kami lalui, bisa dibilang kami sudah sampai pada pos pertama. Kami beristirahat sejenak sambil meminum air yang kami bawa untuk membasmi dahaga. Dalam beberapa view pemandangan yang bagus tak lupa saya mengambil gambar.
Di pos pertama ini di arah yang berlawanan kami berpapasan dengan pendaki lain yang tengah menuruni gunung. Berbincang sedikit, kami jadi tahu kalau dia seorang anggota Mapala. Sebenarnya dapat terlihat dari bagaimana gesit dan lincahnya ketika dia meluncur dengan mudah mengatasi bukit penuh bebatuan ini.
Setelah istirahat beberapa menit perjalanan kami lanjutkan kembali. Sampai pada pos ke dua tenaga saya sudah banyak yang terkuras, lutut pun sudah mulai merasakan nyeri dan sakit. Apalagi beberapa posisi tebing yang curam memaksa kami merayap menggunakan tangan, bebatuan terjal terlihat dari bawah, salah sedikit bisa berakibat fatal.
Keringat bercucuran, dengan sisa energi yang masih bertahan kami terus melanjutkan perjalanan berharap waktu senja tidak berganti malam. Dan akhirnya kami semua sukses mencapai puncak gunung Bambapuang.
Hal pertama yang saya rasakan tentu kepuasan yang tak terkira. Kelelahan yang tadinya melanda sepanjang perjalanan langsung sirna oleh keindahan panorama atas gunung dibayangi oleh sunset yang merona. Kami pun mengabadikan banyak foto sebagai kenang-kenangan. Jadi teringat pepatah pendaki.
"Jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan membunuh apapun kecuali waktu."
Matahari semakin merah mendandakan tugasnya yang akan diambil alih oleh bintang. Sebelum itu terjadi dengan segera kami mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun. Api dinyalakan dengan batang-batang kering seadanya, bergantian kami menjaganya. Malam semakin dingin dan menusuk.
Kami tidur beralaskan tikar beratap gelapnya langit malam. Ya, tidak ada satupun dari kami yang membawa tenda. Malam itu tidak bisa disebut sebagai malam terbaik yang saya alami, secara pribadi saya harus mengakui bahwa belum pernah rasanya mengalami sensasi dingin semacam itu sebelumnya.
Api berulangkali mati dan cuaca dingin terus menyapa sepanjang malam. Hiburan saya satu-satunya hanya melihat taburan bintang sambil berbaring, sinar kecil itu nampak berjatuhan dan saling bertubrukan satu sama lain. Malam itu diatas kesunyian Bambapuang, langit malam begitu gemerlap dan menyilaukan. Iseng menghitung jutaan bintang itu, mata saya pun mulai redup dan tertutup.
Saya tidak ingat berapa lama saya bisa tertidur, tapi nampaknya tidak sampai 4 jam karena kesibukan menjaga api unggun tetap menyala. Subuh buta kami semua sudah terjaga, sambil berbenah kami menikmati cemilan biskuit yang sudah dibawa. Untuk menambah hangat biskuit coklat tersebut kami panggang diatas api unggun, jadinya tambah maknyus gan. Hehe..
Pagi semakin menyapa, sebelum turun kami coba menjelajah beberapa spot-spot di gunung ini yang tidak sempat kami eksplorasi kemarin. Menelusuri bebatuan besar yang dilengkapi telaga-telaga kecil berisi air jernih nan sejuk.
Bermacam-macam gambar kami abadikan sebelum HP kehabisan daya. Esensi pendakian selain bentuk kecintaan terhadap alam, juga mestinya mengabadikan momen-momen berkesan untuk dikenang.
Akhirnya kami semua turun dengan melalui jalur yang sedikit berbeda arah sewaktu naik ke atas. Menuruni gunung tentunya lebih mudah dibanding ketika mendakinya. Sampai di bawah, berakhirlah salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup saya. Petualangan ini meninggalkan banyak kenangan berarti yang tak terlupakan, sekaligus mendebarkan.
Sayangnya beberapa waktu setelah hari itu, teman saya memberikan kabar kalau di lokasi gunung Bambapuang telah terjadi kebakaran yang hebat, semua tumbuhan berubah menjadi arang. Katanya penyebabnya karena aktivitas para perokok.
Saya yang mendengarnya pun miris, segitu hinakah kita sebagai manusia ketika berhadapan dengan alam? Masih banyak manusia yang gagal memposisikan dirinya ketika menjadi eksplorer gunung. Petuah tentang pendakian diabaikan, sampah ditinggalkan, keindahan dianiaya.
Ingatlah karena kejadian ini banyak yang tewas di Bambapuang, alam memang sering memakan korban karena kurangnya respek dari manusia. Maka dari itu hormatilah, jagalah, agar generasi kita dicintai alam raya.
Komentar
Posting Komentar