Langsung ke konten utama

Asal Usul Paganisme | Cerpen

Alkisah ribuan tahun sebelum Abraham, Almasih, dan Abdullah lahir ke bumi, terdapat sebuah negeri dengan kemajemukan penduduknya yang asri. Penduduk negara kecil itu mayoritasnya lebih suka hidup berbaur bersama-sama, tanpa sekat dan kasta, alhasil mereka tidak memiliki pemimpin yang berkuasa.

Karena celah tersebut negara ini akhirnya dikuasai oleh 3 kelompok spiritual agama, bersama pemimpinnya masing-masing yang terus mewartakan kebenaran mereka untuk menambah massa.

Mengusung ajaran dari Dewa yang Satu, banyak penduduk desa dan kota yang tertarik untuk mencoba agama-agama import itu. 3 tokoh spiritual itu memang berasal dari negeri lain dari kultur keadaan yang berbeda-beda, yang akhirnya sama-sama diasingkan karena dianggap orang gila oleh masyarakatnya sendiri. Beruntung bagi penduduk lain, mereka dipandang sebagai musafir pembawa kabar baik dan pengkhotbah bathin.

3 tokoh agama ini terus menyampaikan dogma mereka, yang intinya untuk percaya Tuhan pencipta dunia, meski sosok yang mereka percaya memiliki representasi yang berbeda-beda. Doa-doa dilantunkan sebagai bagian untuk meminta belas kasih, ritual-ritual dilakukan secara rutin sebagai sarana mensucikan diri, tak lupa tanda-tanda alam di ajarkan demi pribadi lebih mengenal sifat Sang Hyang Widi.

Ajaran 3 tokoh agama ini terus berkembang dari waktu kewaktu, pengikutnya pun semakin membludak oleh para iman baru. Situasi yang awalnya penuh toleransi, mulai mengarah ke kondisi yang tak terkendali. Satu orang pengikut dari salah satu agama tewas di sebuah warung makan, wajahnya membiru dengan nanah berbusa ditenggerokan. Dia salah satu jemaat yang paling aktif di rumah ibadah, dianggap oleh rekannya sosok yang sederhana dan taat akan sunnah.

Tidak ada saksi yang paling mengetahui bagaimana peristiwa sebenarnya terjadi, tapi isu dengan cepat menyebar keseontoro negeri. Dimulai dari rumor bahwa dia telah dibunuh oleh salah satu pengikut agama lain, alasannya karena percekcokan doa mana yang benar sebelum makan. Gosip yang terus disampaikan dalam berbagai kesempatan, berubah menjadi kabar kebenaran yang perlu dipersoalkan.

Tensi antara umat pun naik, semua merasa diri yang paling benar dan pemilik ajaran paling baik. Diberbagai tempat dan titik, setiap pengikut agama yang berbeda satu sama lain berpapasan dan saling melirik, terjadi kegaduhan berujung kekerasan diakhiri luka lebam pada wajah yang sudah burik. Agama yang awalnya urusan personal menjadi pertikaian politik.

Perusakan candi, prasasti, simbol, dan kitab terjadi sistematis, banyak korban berakhir tragis. Disertai pekikan kalimat kebesaran ilahi, semua pihak merasa wajib dihormati ideologinya dan Tuhannya lah yang tiada tanding dan paling hakiki.

Situasi semakin tidak kondusif, keadaan yang awalnya ramah tamah dan penuh senyuman arif, berubah menjadi wilayah teror berbahaya dan pertikaian massal yang terus aktif. Dulunya mereka berperang bersama-sama mengalahkan musuh memperjuangkan Ke-Esa-an yang berbeda-beda, sekarang mereka berperang satu sama lain dengan alasan serupa.

3 pemimpin agama itu akhirnya memutuskan saling bertemu, membawa para pengikutnya dalam konferensi besar untuk mengatasi masalah itu. Pertukaran pendapat dilakukan, dengan cepat menjadi keributan. Sekali lagi mereka semua merasa yang paling suci dan pemilik kedaulatan.

Salah satu pemimpin kemudian berdiri dan bersuara, "Begini saja, untuk membuktikan ajaran mana yang benar, kita berdoa ke Tuhan kita masing-masing, siapa yang dijabah maka dialah pemilik daulah. Semua harus ikut agamanya."

Tak disangka semua pihak setuju dan manggut-manggut kesenangan. Mereka semua yakin doanyalah yang pasti diterima Tuhan. Satu persatu maju kedepan untuk mulai berdoa memanjatkan harapan sambil meminta tanda alam. Dimulai dari para pemimpin mereka untuk legitimasi keyakinan.

"Ya Tuhan aku pengikut-Mu yang setia, tunjukkan kuasa-Mu dihadapan ciptaan-Mu yang hina!" Satu persatu pemimpin itu menengadahkan wajah sambil merangkai kata. Tidak ada yang terjadi, hanya sunyi dan sepi menyelimuti konferensi. Berkali-kali mereka berdoa, semua sia-sia, tidak ada doa yang diterima dan terkabuli.

Mereka bingung dan dipenuhi pertanyaan, padahal dulu ketika masa penjajahan mereka berdoa dan mendapat kemenangan. Saat mencari kerja pun doa mereka dapat menghasilkan. Memang ada masanya permintaan mereka tidak dikabulkan karena mereka paham bahwa takdir berjalan secara misterius dan bagian dari rencana Tuhan. Tapi sekarang pertumpahan darah terjadi antar sesama, apakah salah meminta kepada Tuhan petunjuk yang benar untuk semua?

Pemimpin lain pada pertemuan itu membuka pendapat, "Tampaknya tidak ada doa kita yang diterima karena kita semua sudah bergelimang dosa, karena masalah ini keburukan sudah meracuni diri kita semua, maka dari itu kita harus mencari orang paling bersih untuk bersedia memanjatkan doa dan meminta siapa yang paling benar diantara kita."

"Kalau orang bersih dulu kami punya, dia orang yang tak suka pamer, meski begitu kami tahu kalau dia selalu mengikuti sunnah terdahulu untuk tak makan daging dan cuma makan nasi dan minum air putih. Ia pun menutup rapat kulitnya ketika berjalan dan waktunya sering dihabiskan di rumah sembahyang. Tapi pengikutmu sudah membunuhnya!"

"Kau jangan menfitnah dasar orang tengik munafik!".

Para pemimpin saling bersahut-sahutan disusul para pengikutnya. Situasi kembali panas dan tangan-tangan mulai dipenuhi senjata. Sebelum konferensi berubah menjadi bala perang dan bencana, satu orang pengikut yang tadinya cuma menonton akhirnya angkat suara.

"Begini, saya pernah mendengar kabar burung tentang seseorang dari wilayah seberang, beliau seorang tua yang sangat disegani dan dihormati oleh orang sekitar karena kebijaksanaannya. Selalu membantu sesama dan semua keluhan warga dialah solusinya. Konon meski tak beralas kaki karena semua kebutuhan hidupnya sudah diberikan kecuali kain yang menempel pada tubuh, kakinya tetap bersih dan bercahaya. Semua aktifitas yang beliau lakukan, pasti bermanfaat untuk orang yang membutuhkan. Kalau ada yang bisa memanjatkan doa maka dialah orangnya."

Para pemimpin yang mendengar itu tertarik begitu juga semua orang yang hadir di pertemuan, kejadian mencekam pun dapat dielakkan. Beberapa orang segera ditugaskan untuk memanggil orang tua bijak tersebut agar Tuhan mendatangkan pencerahan.

Disalah satu desa kecil di negara itu seorang pria tua berumur 99 tahun berjalan seperti biasa dengan suara ketukan tongkat yang khas. Masyarakat desa sangat mengenal beliau dan menaruh kepercayaan tinggi kepadanya sebagai sosok yang penuh khidmat nan cerdas. Mereka semua memanggilnya sang kakek, meski pria itu sendiri tidak memiliki keluarga apalagi cucu sehingga bisa dipanggil kakek.

Sebenarnya sang kakek hanyalah pria biasa sama seperti manusia lainnya, asam garam kehidupan lah yang telah membuatnya memiliki pengetahuan diatas rata-rata orang sekitarnya. Bisa jadi beliau orang paling tua di negara yang telah kecanduan agama. Dari masalah sengketa tanah sampai rumah tangga, sang kakek sudah menyelasikan banyak masalah tetangganya dengan dalih filosofis yang ia cerna. Dia bisa saja mendulang keuntungan dari kepintarannya, tapi sang kakek memilih hidup sederhana dan tetap jadi sosok bersahaja. Apalagi akhir umur tak ada yang mengira.

Utusan dari 3 pemimpin tokoh agama pun datang, menjelaskan seluk beluk permasalahan mereka kepada sang kakek dan diminta mencari solusi matang. Sang kakek berpikir sejenak, dan akhirnya bersedia untuk menyanggupi keinginan mereka untuk memanjatkan doa ke sang khalik.

Konferensi jilid 2 dilakukan, semua memantau harap cemas termasuk 3 pemimpin agamawan. Sang kakek hanya terduduk diam disitu, matanya terpejam dan lidahnya membisu, tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh kakek itu. Setelah beberapa saat dia berdiri, memandang ke mata semua kerumunan dan berkata dengan lantang.

"Tuhan kalian semua sudah mati, di langit nirwana sana mereka berperang satu sama lain jauh hari sebelum kalian sekarang ini di bumi. Makanya tidak ada yang mengabulkan doamu, jadi pulanglah dan mulai ikuti bisikan hati dan nuranimu!"

Semua yang hadir terperanjat, 3 pemimpin mereka langsung berang sembari matanya melotot dengan pandangan yang dirasuki pemikiran jahat. Tampil murka salah satu diantara mereka berteriak memprovokasi massa, "Orang sesat ini sudah menghujat Tuhan dan menistakan agama kita, hukuman Tuhan adalah bayarannya!".

Sang kakek ditangkap dengan pasrah, beliau sama sekali tidak bereaksi sedih apalagi marah, kesadaran akan kematian memang sudah dalam benaknya. Kayu salib dipersiapkan, tubuhnya yang lusuh siap untuk jadi tontonan amarah orang yang empunya keadilan. Paku menembus telapak tangan, beliau tidak sempat meringis kesakitan. Hanya sejenak saja nyawa sang kakek melayang dihadapan ratusan mata Tuhan.

Setelah peristiwa itu semua kembali sunyi, tidak ada yang berani berbicara meski sepatah kata demi menghibur diri, termasuk para pemimpin yang tadinya dipenuhi semangat untuk menghabisi. Rasa canggung menyelimuti, satu persatu tanpa menunggu komando lagi, mereka mulai membubarkan diri. Konferensi jilid 2 berakhir tanpa hasil yang dicari.

Setelah hari yang kelam dan kelabu itu, keadaan berangsur-angsur tenang dan membaru. Tidak ada lagi pertikaian yang nampak di jalan-jalan, semua orang lebih peka untuk mengurus diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. Kadang masih terdengar tentang peristiwa hari itu dalam beberapa pembicaraan. Tentang kematian kakek tua oleh kekuasaan tokoh panutan.

Banyak orang mulai tak percaya dengan dogmatika sesembahan yang dikenalkan kepada mereka, dan mulai berpikir untuk mencari relung hati pribadi demi mengenal kebaikan nyata. Tampaknya kematian sang kakek telah menjadi awal ketenteraman, apakah akan bertahan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Video Animasi Kelam (Dark) Tapi Penuh Makna Mendalam

Seperti film pada umumnya, Animasi juga memiliki banyak genre, bahkan sebenarnya melebihi kategori yang sudah akrab didengar ketika kita berbicara genre yang terdapat pada dunia perfileman. Seperti film action yang akrab diputar di televisi maupun genre horror dan sci-fi yang jadi tontonan mingguan di bioskop terdekat. Ini karena Animasi memiliki keunikan, yaitu tidak dibatasi oleh penggunaan aktor manusia yang penuh kekurangan. Dengan demikian, seseorang bisa membuat film animasi pribadi tanpa perlu membutuhkan bantuan pihak lain. Di YouTube sendiri, banyak animator yang membuat animasi secara independen. Film animasi pendek dalam situs daring berbagi video tersebut memiliki beragam genre dan tema. Termasuk topik berat yang belum bisa dikonsumsi anak yang masih dibawah umur. Kisah plot yang dark, satire, politik, dll yang kemudian disajikan dengan makna mendalam. Rata-rata video animasi karya para channel animator ini bersifat visual storytelling, yakni animasi yang tidak memil...

Ekspedisi Pendakian Gunung Bambapuang

Gunung Bambapuang adalah gunung yang terdapat di wilayah Enrekang, tepatnya di daerah Dusun Kotu, Desa Bambapuang. Gunung dengan ketinggian 1557 meter ini sering menjadi destinasi pendakian para wisatawan lokal Indonesia. Terkadang traveler bule yang berwisata di Enrekang juga menikmati keindahan gunung ini dari bawah. Pada masa PKL yang merupakan salah satu kewajiban perkuliahan, saya ditempatkan bekerja di Enrekang bersama teman saya yang kebetulan memang kelahiran sana. Karena itulah saya berkesempatan turut melakukan ekspedisi pendakian gunung Bambapuang ini, tentunya bersama teman saya itu dan beberapa rekan lain. Mendaki gunung jelas pengalaman pertama yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Kegiatan ini membuat saya bersemangat dan excited, memikirkan akhirnya saya dapat mengalami sendiri experience dari lagu anak-anak "Naik Naik ke Puncak Gunug" yang sering saya lantunkan waktu SD. Hehe.. Tapi selain itu ada pula perasaan deg-degan karena sebagai anak bawang ...